PC HIKMAHBUDHI JAKARTA TIMUR

Beranda » 2015 » Abhinyano : Mahasiswa juga memiliki kekuatan super power

Abhinyano : Mahasiswa juga memiliki kekuatan super power

2

Abhinyano

WAWANCARA EKSKLUSIF Tim Redaksi Daunbodhi.com dengan saudara Abhinyano:

http://www.daunbodhi.com/2017/07/07/sosok-inspirasi-abhinyano-sang-aktivis-komunitas-buddhis/

Halo pembaca! Sukhi Hotu, semoga semua berbahagia ya. Kali ini kita akan kenalan dengan salah satu aktivis Buddhis di Indonesia. daunbodhi.com berkesempatan mewawancari saudara Abhinyano yang saat ini menjabat sebagai Ketua PC HIKMAHBUDHI Jakarta Timur (Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia – Jakarta Timur).

Alumni Unika Atma Jaya Jakarta jurusan Teknik Mesin dengan Predikat Skripsi A ini, sejak mahasiswa sudah aktif berkecimpung di dunia sosial-kebangsaan. Penasaran dengan kiprah-kiprahnya? Yuk, simak wawancara daunbodhi.com dengan saudara Abhinyano!

Daunbodhi.com : Abhi, apa sih yang mendorong kamu untuk berkecimpung di dunia sosial-kebangsaan?

Abhi :  Sesuai dengan semboyan Umat Buddhis, yaitu “Sabbe Satta Bhavanthu Sukhitatta”, yang memiliki makna sebuah harapan & tekad “Semoga semua Makhluk berbahagia”.

Bagi saya, ranah sosial-kebangsaan merupakan alat bantu atau kendaraaan yang paling ampuh bagi kita semua untuk mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk.

Sejak dulu saya selalu berpandangan bahwa seorang terpelajar & intelektual, khususnya Mahasiswa, sesungguhnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan golongan masyarakat pada umumnya.

Seperti ucapan dari Paman Peter Parker di film Spiderman yang mengatakan, “with great power comes great responsibility”, yang artinya “Dengan kekuatan yang besar, datang pula tanggung jawab yang besar”.

Kalau kita resapi, sesungguhnya kaum Mahasiswa juga memiliki kekuatan super, yang jika digunakan dengan bijak dapat bermanfaat & menimbulkan kebahagiaan bagi semua makhluk.

Namun kekuatan super Mahasiswa tersebut bukanlah seperti jaring laba – laba yang dimiliki Spiderman, yang dapat membuat dirinya berayun – ayun diantara gedung – gedung pencakar langit & bisa digunakan untuk meringkus para penjahat secara langsung.

Kekuatan super yang dimiliki kaum Mahasiswa tersebut adalah Intelektualitas, yang dapat digolongkan dalam 3 jenis, yaitu Kepekaan Intelektual, Kejujuran Intelektual & Keberanian Intelektual.

Kepekaan intelektual adalah kemampuan untuk menangkap dan memahami berbagai fenomena sosial, ekonomi, politik yang ada dalam masyarakat, memiliki kepekaan dan selera akan nilai kebenaran & keadilan, serta peka terhadap segala bentuk ketidakadilan, dalam hal ini adalah ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang sedang terjadi, yang dilakukan oleh pemegang kepentingan & memiliki kekuasaan karena jabatan atau posisinya, terhadap kaum yang lemah.

kejujuran intelektual adalah keberanian untuk berkata tidak pada pelacuran & penghianatan kepekaan intelektual itu sendiri, jujur bersuara tentang pemahaman dan perasaannya terhadap berbagai fenomena yang terjadi di dalam masyarakat, tidak terkooptasi oleh kekuasaan & kemewahan.

Sedangkan keberanian intelektual adalah keberanian untuk bertindak & mencari solusi disaat krisis moral sedang melanda, keberanian mewujudkan perdamaian & keadilan, serta berani untuk melawan segala bentuk kesewenang – wenangan.

Bagi saya, disaat Negara sedang mengalami dinamika & problematika apapun bentuknya, Mahasiswa harus selalu berada pada posisi terdepan & berani beraksi untuk menjaga serta mengawal bangsa ini agar jangan sampai rusak, bahkan hancur oleh sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab.

Aksi tidak selalu diartikan sebagai demonstrasi & tindakan anarkis. Bahkan menurut saya, demonstrasi yang dilakukan pada saat yang tepat & hanya memiliki 1 kepentingan, yaitu untuk kebaikan serta tidak merugikan orang lain, malah bagus.

Bagaimana Aung San Suu Kyi bersuara & menentang kediktatoran militer di Myanmar merupakan contoh demonstrasi yang baik, karena bertujuan untuk menciptakan perdamaian di Negara tersebut.

Ada 3 Jenis aksi berdasarkan tingkat kesulitan & dampaknya, yaitu Hold Action, Cultural Action & Structural Action.

Hold action adalah aksi yang sifatnya menahan atau menunda, hanya memberikan dampak yang sifatnya sementara. Karena sifatnya sementara & bukan jangka panjang, maka jenis aksi yang satu ini tergolong dalam aksi yang tingkatannya paling rendah diantara jenis aksi lainnya.

Contoh hold action yang paling mudah adalah bakti sosial berupa makanan atau obat – obatan. Bagi saya, bakti sosial makanan atau obat – obatan termasuk dalam kategori hold action, karena makanan atau obat – obatan yang didanakan, hanya bertahan dalam jangka waktu tertentu.

Mungkin dalam seminggu atau bahkan sebulan, orang yang menerima dana makanan & obat – obatan akan tenang karena tidak akan merasa lapar, dan jika terkena penyakit mereka sudah punya obatnya. Namun, apa yang akan terjadi setelah bahan makanan & obat – obatan tersebut habis?

Tapi bukan berarti saya berpandangan aksi baksos tergolong negatif & tidak ada manfaatnya. Menurut saya, aksi Baksos tetap tergolong aksi yang bagus & mulia, karena dengan berdana kita sesungguhnya sudah melatih diri untuk menumbuhkan cinta kasih di dalam diri kita, hanya saja dampak eksternalnya yang tidak begitu besar & sifatnya jangka pendek.

Cultural Action atau aksi dengan perubahan budaya tergolong aksi tingkat menengah, yang berarti aksi dengan menumbuhkan budaya atau kebiasaan & perilaku yang dapat membawa perubahan lebih baik. Aksi ini bisa dilakukan dengan cara memberikan edukasi, seminar, kampanye, dhammadesana dan lainnya.

Semisal kita melakukan seminar tentang bahaya narkoba terhadap pelajar yang bertujuan untuk menumbuhkan budaya anti narkoba, aksi kampanye peduli candi Bodobudur yang bertujuan untuk menumbuhkan perilaku & kepedulian masyarakat terhadap kelestarian candi Borobudur dengan cara tidak membuang sampah di candi atau memanjat stupa candi, berceramah di Vihara dengan bijaksana dan lainnya. Dalam konteks yang lebih sederhana bisa dilakukan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tidak korupsi, tidak ikut – ikutan menyebar berita hoax dan lainnya.

Structural Action merupakan aksi yang tingkatannya paling tinggi, karena dampaknya luas & sifatnya jangka panjang. Perjuangan Pemerintah untuk membuat regulasi atau kebijakan yang pro rakyat adalah contoh structural action yang paling ampuh, karena banyak sekali pihak yang dapat merasakan dampaknya. Misalnya, dengan adanya KJP (Kartu Jakarta Pintar), banyak anak – anak yang tadinya tidak mampu mengenyam pendidikan, jadi bisa bersekolah. Serupa seperti KJS (Kartu Jakarta Sehat), orang – orang yang dulunya tidak mampu berobat, kini bisa berobat secara gratis, kebijakan Tol Laut & Pembangunan jalan tol yang dapat meratakan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia serta pembangunan pembangkit listrik di daerah tertinggal juga memberikan dampak yang sangat baik bagi banyak pihak.

Bayangkan kawan – kawan, selama banyak orang – orang yang bisa menikmati pendidikan & pengobatan gratis, karma baik akan terus mengalir. Begitu juga dengan adanya listrik di daerah tertinggal, orang – orang yang dulu aktivitasnya terhambat di malam hari karena gelap, sekarang mereka jadi bisa lebih leluasa beraktivitas. Maka, selama listrik tersebut mengalir, maka karma baik kita juga akan terus mengalir.

Jika kita igin mengimplementasikan structural action tersebut, tentu kita harus siap untuk masuk ke dalam sistem yang ada, dalam hal ini masuk ke dalam sistem ketatanegaraan, sehingga kita dapat membuat regulasi yang dapat membawa perubahan baik bagi banyak pihak.

Namun dalam beberapa kasus, kita juga bisa mendorong terciptanya regulasi tanpa perlu masuk ke dalam sistem. Kita cukup menjadi fungsi kontrol dari si pembuat kebijakan. Salah satu contoh yang dapat kita lihat saat ini adalah aksi “Bali Tolak Reklamasi”, yang salah satu agendanya adalah mendorong Presiden untuk mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014 yang membolehkan dilakukannya reklamasi di Teluk Benoa yang dapat mengubah kawasan konservasi tersebut menjadi budidaya sehingga dapat merusak lingkungan & mengganggu aktivitas nelayan. Jadi, bukan hanya pemerintah saja yang bisa mengimplementasikan structural action. Kita semua juga bisa.

Kalau kita cermati, sesungguhnya Buddha juga memiliki unsur intelektualitas & banyak melakukan aksi seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Dalam kisah hidup Buddha juga pernah diceritakan bagaimana Buddha berupaya untuk mencegah peperangan yang hampir meletus antara suku Sakya dengan suku Koli. Ada pula kisah bagaimana Buddha menentang sistem kasta di India yang sangat diskriminatif & membeda – bedakan perlakuan berdasarkan golongannya.

Oleh karena itu, kita sebagai murid Buddha, sudah sewajibnya mencontoh perilaku mulia Buddha.

Daunbodhi.com : Kapan kamu mulai memutuskan untuk serius berkontribusi lebih bagi komunitas Buddhis di Indonesia?

Abhi : Sejak SMP. Karena sejak SMP saya sering diajak ikut berdiskusi oleh para petinggi – petinggi HIKMAHBUDHI pada masa itu. Walaupun pada usia tersebut saya merasa cukup sulit untuk mengerti esensi dari bahasan diskusi tersebut, karena topik yang dibahas saat itu selalu berat, namun pelan tapi pasti, ilmu & perilaku kritis yang dimiliki oleh senior – senior HIKMAHBUDHI menular kepada saya. Bayangkan saja, saat itu saya sudah diajak untuk berdiskusi tentang kontribusi komunitas Buddhis bagi Bangsa & Negara.

Daunbodhi.com : Siapa sih tokoh sosial-kebangsaan yang paling kamu kagumi, dan kenapa?

Abhi : Sebetulnya banyak tokoh yang saya kagumi. Namun ada satu tokoh yang paling saya kagumi, karena saya merasa tokoh tersebut sangat menjiwai diri saya. Walaupun dia sudah lama tidak ada di dunia ini, namun spirit & perjuangannya masih dapat saya rasakan, sehingga saya dapat memiliki kepribadian seperti saat ini.

Dia adalah SOE HOK GIE, seorang aktivis & intelektual muda yang berani & kritis. Pemikiran – pemikirannya yang progressif & melampaui orang – orang pada zamannya telah mewariskan keteladanan bagi dunia pergerakan mahasiswa, intelektual muda & kaum aktivis.

Salah satu filosofi yang saya kagumi dari Gie adalah semangatnya dalam mendaki gunung. Gie pernah mengatakan “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”.

Spirit & Aktivitas tersebut juga sedang saya terapkan di PC HIKMAHBUDHI Jakarta Timur, dengan tujuan untuk membangun rasa kekeluargaan & solidaritas (Kalyanamitta) yang kuat, cinta terhadap lingkungan, hidup mandiri, mengasah kepekaan & kepedulian, serta menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi antar anggota.

Daunbodhi.com : Dalam memberikan sumbangsih bagi komunitas Buddhis di negeri ini, dimana saja tempat kamu memutuskan untuk berkontribusi?

Abhi : Bagi saya, apapun wadah atau organisasinya, semua tergantung dari kuatnya tekad kita untuk berbuat baik. Organisasi hanyalah kendaraan bagi kita untuk menghasilkan karya & kontribusi nyata untuk komunitas Buddhis maupun Negara.

Saya sendiri memilih HIKMAHBUDHI sebagai kendaraan untuk berbuat baik. Karena saya melihat HIKMAHBUDHI adalah satu – satunya organisasi yang berani menggarap lahan pergerakan yang sangat jarang disentuh oleh Komunitas Buddhis, yaitu ranah sosial kebangsaan & kemasyarakatan.

Banyak sekali organisasi atau perkumpulan di internal komunitas Buddhis yang sangat rajin menggarap lahan pergerakan yang sifatnya ritual & bakti sosial.

Ranah tersebut memang positif & perlu digarap, namun kapasitas lahannya sudah overload, karena sudah terlalu banyak organisasi Buddhis yang bergerak pada ranah tersebut. Sedangkan di sisi lain masih banyak lahan – lahan pergerakan lainnya yang sangat jarang & belum tersentuh oleh komunitas Buddhis, misalnya ranah sosial kebangsaan & sosial kemasyarakatan, Kebudayaan, Hukum, Perekonomian, kajian, akademisi dan sebagainya.

Oleh karena itu, saya berpesan bagi teman – teman semua, marilah kita mulai menggarap lahan – lahan yang masih kosong tersebut, yang tentunya harus disesuaikan dengan passion & kapasitas diri kita masing – masing. Itu semua harus kita lakukan demi kemajuan komunitas Buddhis, Bangsa & Negara Indonesia.

Daunbodhi.com : Menurut kamu, bagaimana sih seharusnya umat Buddhis berkontribusi dalam bidang sosial-kebangsaan bagi Indonesia?

Abhi : Jangan apatis dengan fenomena sosial yang ada di sekitar kita. Karena sesungguhnya intisari dari ajaran Buddha adalah kepedulian sosial. Sangat lucu jika kita sebagai murid Buddha rajin sembahyang di Vihara namun kepedulian sosialnya nihil. Kita harus semakin banyak melakukan aksi. Aksi seperti hold action sudah sering kita lakukan. Sekarang saatnya kita mulai kembangkan Cultural Action & mendorong terciptanya regulasi yang positif dengan mengimplementasikan Structural Action.

Kita juga harus mulai menggarap lahan pergerakan yang belum pernah tersentuh, misalnya ranah sosial kebangsaan & sosial kemasyarakatan, Kebudayaan, Hukum, Perekonomian, kajian, akademisi dan sebagainya

Memberikan kontribusi bagi Negara tentunya harus diimbangi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik & ditopang oleh persatuan yang kokoh antar umatnya.

Jangan mengkotak – kotakan komunitas Buddhis berdasarkan aliran, sekte maupun organisasi tertentu. Jangan hanya karena ego pribadi & golongan, kita banyak membuat wadah baru di internal komunitas Buddhis yang justru malah semakin mengkerdilkan & memecah belah komunitas Buddhis. Jika ingin membuat sebuah wadah baru, tentunya harus memiliki konsep yang jelas serta fungsi yang strategis demi kemajuan komunitas Buddhis.

Masukan saya untuk para donatur kaya & pebisnis Buddhis, mulailah berdana dengan bijak & efektif. Konsentrasi pendanaan jangan hanya selalu berpusat pada pembangunan Vihara, kegiatan ritual serta kegiatan bakti sosial. Kita juga harus memperhatikan pembangunan SDM. Karena, dengan SDM yang berkualitas kita akan mempunyai pondasi yang kuat untuk membangun komunitas Buddhis kedepannya.

Selain terarahnya bantuan dana, regenerasi juga merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan SDM komunitas Buddhis. Sebuah badan, organisasi maupun komunitas dapat dinilai sangat tidak sehat jika dipimpin oleh sebuah rezim yang terlalu lama berkuasa, karena indikator sehatnya sebuah organisasi adalah keberhasilan dalam menciptakan kader atau pemimpin secara terus menerus. Regenerasi yang sehat tersebut dapat diciptakan melalui sistem kaderisasi dengan konsep yang matang. Pemudanya juga jangan malas untuk dikader. Kalau regenerasi sudah berjalan dengan baik & banyak yang semangat untuk dikader, saya jamin komunitas Buddhis akan maju & berkembang dengan pesat.

Appamadena sampadetha !

Berjuanglah Dengan Sungguh – Sungguh !

Dimuat juga di :

https://hikmahbudhijakartatimur.wordpress.com/2017/07/07/abhinyano-mahasiswa-juga-memiliki-kekuatan-super-power/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Appamadena Sampadetha !

Berjuanglah Dengan Sungguh - Sungguh !
%d blogger menyukai ini: